MAKALAH PANCASILA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, tak lupa pula shalawat serta salam kami haturkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Ucapan terima kasih kepada Ibu Dra.
Nuraini Usman,S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing Mata kuliah Pancasila yang
berkenan membimbing kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat
waktu.
Makalah ini mengupas
tentang “PERKEMBANGAN SIKAP DAN MORAL ANAK USIA SEKOLAH DASAR”
Dalam penyusunan makalah
ini, kami menyadari masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi, bentuk,
maupun pemaparannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik konstruktif dari
pembaca untuk penyempurnaan penulisan makalah selanjutnya.
Akhir kata kami ucapkan
banyak-banyak terimakasih kepada semua pihak yang menyempatkan diri membuka dan
membaca makalah ini semoga dapat bermanfaat.
Palembang, 26
Oktober 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
A.
LATAR BELAKANG................................................................................ 1
B.
RUMUSAN MASALAH............................................................................ 1
C.
TUJUAN..................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 2
A.
PENGERTIAN MORAL DAN
SIKAP.................................................... 2
B.
PROSES PEMBENTUKAN MORAL
DAN SIKAP.............................. 4
C.
UPAYA PENGEMBANGAN MORAL
DAN SIKAP............................. 7
BAB III PENUTUP................................................................................................ 10
A.
KESIMPULAN........................................................................................... 10
B.
SARAN........................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 11
BAB I. PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Perkembangan anak pada usia enam sampai dua
belas merupakan sesuatu yang kompleks. Artinya banyak faktor yang turut
berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak.
Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam
berinteraksi dengan lingkungan, saling memberikan kontribusi tertentu terhadap
arah dan laju perkembangan anak tersebut.
Guru, terutama guru SD diharapkan mempunyai
pemahaman konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak di SD.
Pemahaman konseptual tersebut meliputi gambaran tentang siapa anak SD dan
bagaiamana mereka berkembang, yang mencakup tentang karakteristik perkembangan
anak usia SD dalam berbagai aspek fisik, moral, dan sikap.
Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar
pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan
melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
Dengan bekal pemahaman konstektual tersebut, guru
diharapkan dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan
proses pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan anak SD.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian moral dan sikap?
2.
Bagaimana proses pembentukan perilaku moral dan sikap?
3.
Bagaimana cara mengembangkan moral dan sikap?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui apa itu moral dan sikap
2.
Mengetahui proses pembentukan moral dan sikap
3.
Mengetahui cara mengembangkan moral dan sikap
BAB II. PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN MORAL DAN
SIKAP
Moral
berasal dari bahasa Latin "mos" (jamak: mores) yang
berarti kebiasaan, adat. Kata "mos" (mores) dalam
bahasa Latin sama artinya dengan etos dalam bahasa Yunani. Di dalam
bahasa Indonesia, kata moral diterjemahkan dengan arti susila. Adapun pengertian moral yang paling
umum adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide yang diterima umum,
yaitu berkaitan dengan makna yang baik dan wajar. Dengan kata lain, pengertian moral adalah suatu
kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran tindakan yang diterima oleh
umum, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Kata moral selalu
mengacu pada baik dan buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Telah banyak
ahli yang mencoba memberikan pengertian moral. Seperti apa pengertian moral
menurut mereka?
Berikut ini beberapa
Pengertian Moral Menurut para Ahli:
- Pengertian Moral Menurut Chaplin (2006): Moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.
- Pengertian Moral Menurut Hurlock (1990): moral adalah tata cara, kebiasaan, dan adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.
- Pengertian Moral Menurut Wantah (2005): Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku.
Dari tiga pengertian moral di atas, dapat disimpulkan
bahwa Moral adalah suatu
keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan
sosial, yang mendasari tindakan atau pemikiran. Jadi, moral sangat berhubungan
dengan benar salah, baik buruk, keyakinan, diri sendiri, dan lingkungan sosial.
Sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang
kurang lebih bersifat permanen mengenal aspek-aspek tertentu dalam
lingkungannya. Komponen-komponen sikap
adalah pengetahuan. perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam
pengertian yang lain, sikap adalah kecondongan
evaluatif terhadap suatu objek atau subjek yang memiliki konsekuensi yakni
bagaimana seseorang berhadap-hadapan dengan objek sikap. Tekanannya pada
kebanyakan penelitian dewasa ini adalah perasaan atau emosi. Sikap yang
terdapat pada diri individu akan memberi warna atau corak tingkah laku ataupun
perbuatan individu yang bersangkutan. Dengan memahami atau mengetahui sikap
individu, dapat diperkirakan respons ataupun perilaku yang akan diambil oleh
individu yang bersangkutan.
Sikap dapat juga diartikan sebagai pikiran
dan perasaan yang mendorong kita bertingkah laku ketika kita menyukai atau
tidak menyukai sesuatu. Sedang sikap sendiri mengandung tiga komponen yaitu :
kognisi, emosi dan perilaku serta bisa konsisten dan bisa juga tidak.
Tergantung permasalahan apa yang mereka hadapi. Kraus menemukan beberapa faktor yang memprediksi konsistensi sikap
dan perilaku seseorang yaitu: stabil sepanjang waktu, dilakukan dengan
keyakinan yang tinggi. konsisten dengan reaksi emosi seseorang ke arah
perilaku, terbentuk karena pengalaman langsung, mudah diingat.
Berikut
ini pengertian sikap dari beberapa ahli:
- Notoatmodjo S. (1997): Sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup dan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
- Bimo Walgito, (2001): Sikap adalah organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berpenilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Meski
ada begitu banyak pengertian sikap, yang pasti, dalam berbagai ulasan
tentang sikap selalu ditemui beberapa konstruksi yang relatif tetap, berkaitan
dengan jenis, dimensi, dan hierarki sikap. Umumnya, ada tiga jenis sikap manusia:
- Kognitif, yang berkaitan dengan apa yang dipelajari, tentang apa yang diketahui tentang suatu objek;
- Afektif, atau sering disebut faktor emosional, yang berkaitan dengan perasaan (bagaimana perasaan tentang objek);
- Psikomotorik atau konatif, yakni perilaku (behavioral) yang terlihat melalui predisposisi suatu tindakan.
B.
PROSES PEMBENTUKAN MORAL
DAN SIKAP
Pada
awal masa kanak-kanaknya, biasanya anak-anak akan mengidentifikasi diriya
dengan ibu atau ayahnya atau orang lain yang dekat dengannya. Sedangkan masa
selanjutnya sesuai dengan perkembangan pergaulan dan pandangan anak-anak mulai
mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh, pahlawan-pahlawan, pimpinan
masyarakat atau orang-orang yang berprestasi dalam bidang olahraga dan
sebagainya. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan moral anak. Berikut ini
beberapa proses pembentukan perilaku moral dan sikap anak.
1.
Imitasi
(Imitation)
Dalam tulisan ini imitasi berarti peniruan sikap, cara
pandang serta tingkah laku orang lain yang dilakukan dengan sengaja oleh
anak.
Pada umumnya anak mulai mengadakan
imitasi atau peniruan sejak usia 3 tahun, yaitu meniru perilaku orang
lain yang ada disekitarnya. Seringkali anak tidak hanya meniru perilaku
misalnya gerak tubuh, rasa senang atau tidak senang, sikap orang tua terhadap
agama dll. Tetapi ekspresi orang lain terhadap sesuatu, antara lain menitukan
orang marah, menangis bergembira dan sebagainya.
Pada umumnya anak suka menirukan segala sesuatu yang
dilakukan oleh orang tuanya, jadi bukan yang diucapkan atau dikatakan
oleh orang tuanya terhadap orang lain, kakak dan sebagainnya. Misalnya apabila
dia melihat ayahnya sedang marah terhadap kakaknya, anak akan menirukan
perbuatan ayah membanting pintu, namum bukan kata-kata yang diucapkan oleh
ayahnya.
2.
Internalisasi
Internalisasi adalah suatu proses yang merasuk pada diri seseorang
(anak) karena pengaruh sosial yang paling mendalam dan paling langgeng dalam
kehidupan orang tersebut. Suatu nilai, norma atau sikap semacam itu selalu
dianggap benar. Begitu nilai, norma atau sikap tersebut terinternalisasi pada
diri anak sukar dirubah dan menetap dalam waktu yang cukup lama. Misalnya
seorang anak menilai bahwa memakai kerudung itu baik dan benar, maka anak
akan melakukan terus sekalipun kadang-kadang mendapat cemoohan dari orang atau anak
lain. Sebaliknya penanaman nilai semacam ini dimulai sejak dini,
sehingga sejak kecil telah terbiasa membedakan sesuatu yang baik dengan yang
kurang baik.
Dalam Internalisasi tersebut faktor yang paling penting
adalah adanya keyakinan dan kepercayaan pada diri individu atau anak tersebut
terhadap pandangan atau nilai tertentu dari orang lain, orang tua, kakak atau
kelompok lain dalam pergaulan sehari-hari.
3.
Introvert dan Ekstrovert
Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan
sosialnya, minat, sikap atau keputusan-keputusan yang diambil selalu
berdasarkan pada perasaan, pemikiran dan pengalamannya sendiri.
Orang
yang berkecenderungan introvert biasanya bersifat pendiam dan
kurang bergaul bahkan seakan-akan tidak memerlukan bantuan orang lain, karena
kebutuhannya dapat dipenuhi sendiri.
Ekstrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian
keluar dirinya, sehingga minat, sikap dan keputusan-keputusan yang diambil
lebih banyak ditentukan oleh orang lain atau berbagai peristiwa yang terjadi di
luar dirinya. Orang yang berkecenderungan ekstrovert biasanya
mudah bergaul, ramah, aktif, banyak berinisiatif serta banyak teman.
4.
Kemandirian
Dalam pengertian umum kemandirian adalah kemampuan seseorang
untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain baik dalam bentuk material
maupun moral. Sedangkan pada anak kemandirian sering kali dikaitkan
dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan kekuatan
sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Misalnya mengikat tali sepatu dll.
Dasar kemandirian adalah adanya rasa percaya diri seseorang
untuk menghadapi sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada anak rasa
percaya diri ini selalu berkembang sesuai dengan bertambahnya usia dan
pengalaman serta bimbingan dari orang dewasa, antara lain guru,
orang tua, kakak, orang lain di sekitarnya yang dapat bergaul dengan baik serta
memberikan bimbingan secara langsung atau tak langsung.
5.
Ketergantungan
Ketergantungan atau Overdependency tersebut ditandai
dengan perilaku anak yang bersifat "kekanak-kanakan", perilakunya
tidak sesuai dengan anak lain yang sebaya usianya. Dengan kata lain anak
tersebut memiliki ketidak mandirian, yang mencakup fisik dan mental dan
perilakunya berlainan dengan anak "normal".
6.
Bakat
Bakat atau Aptitude merupakan potensi dalam
diri seseorang yang dengan adanya rangsangan tertentu meungkin orang tersebut
dapat mencapai sesiatu tingkat kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus
yang sering kali melebihi orang lain.
Bakat tersebut juga terdapat semenjak masa kanak-kanak.
Aktivitas anak sudah dapat mencerminkan bakat tertentu. Menurut ilmu
pengetahuan ada dua jenis bakat yang dimiliki dan dapat dikembangkan, yaitu :
·
Bakat
yang bertalian dengan kemahiran atau kemampuan mengenai suatu bidang
pekerjaan khusus, sebagai contoh : dagang, menulis/menyusun karangan dsb. bakat
semacam ini disebut juga vocation aptitude.
·
Bakat
yang diperlukan untuk berhasil dalam tipe pendidikan tertentu atau pendidikan
khusus, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan oleh orang
arsitek, bakat semacam ini disebut juga scholastic aptitude.
C.
UPAYA PENGEMBANGAN MORAL DAN SIKAP
Interaksi sosial awal
terjadi didalam kelompok keluarga. Anak belajar dari orang tua, saudara
kandung, dan anggota keluarga lain tentang apa yang dianggap benar dan salah
oleh kelompok sosial tersebut. Disini anak memperoleh motivasi yang diperlukan
untuk mengikuti standar perilaku yang ditetapkan anggota keluarga.
Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetap mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka. Karena pengaruh yang kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak, penting sekali jika kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyai standar moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar dalam masyarakat.
Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetap mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka. Karena pengaruh yang kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak, penting sekali jika kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyai standar moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar dalam masyarakat.
Hurlock mengemukakan yang
perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu:
1. Mempelajari
apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan
dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan
peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap “benar” atau “salah” karena tindakan
itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan
anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan
hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. Yang lainnya, bertahan
sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.
2. Pengambangan
hati nurani sebagai kendali internal bagi perliaku individu. Hati nurani
merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi
dan tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan
agresif dengan hukum.
3. Pengembangan
perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, hati nurani
mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah
sejenis evaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui
perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.
Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada
seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian ini belum
tentu benar-benar ada, namun mengakibatkan rasa rendah diri terhadap
kelompoknya.
4. Mencontohkan,
memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari
anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk
moral anak.
5. Latihan
dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaan
merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia
dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil
orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya
untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moral yang positif bagi anak
6. Kesempatan
melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang
peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain,
anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara social, maupun
memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati.
Salah satu cara
mengembangkan sikap dan keterampilan pada siswa sekolah dasar adalah
dengan menciptakan suasana kelas dan sekolah yang mendukung secara optimal.
Kelas merupakan pola-pola hubungan yang dikembangkan dalam proses interaksi
atau aktivitas kelas yang menyangkut suasana sosioemosional yang berkembang dan
dialami oleh anggota kelas, khususnya para siswa disaat mengikuti kegiatan
pembelajaran. Pola hubungan yang diciptakan guru di kelas akan sangat
menentukan suasana interaksi yang dialami oleh siswa.
karakteristik utama dari suasana
sosiomoral di sekolah adalah dengan menanamkan demokratis dan keterlibatan
semua warga sekolah. Bila hal itu dapat dilakukan di tiap-tiap satuan sekolah
dasar, maka secara nasional tujuan pendidikan akan dapat terlaksana sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah.
BAB III. PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Moral adalah suatu keyakinan tentang benar salah, baik
dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial, yang mendasari tindakan atau
pemikiran. Sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan
kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenal
aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya.
Perkembangan
moral dan sikap melalui beberapa proses yaitu : imitasi, internalisasi,
introvert dan ekstrovert, kemandirian, ketergantungan, dan bakat.
Upaya
pengembangan moral dan sikap adalah dengan menciptakan suasana kelas dan sekolah
yang mendukung secara optimal. Pola hubungan yang diciptakan guru di kelas akan
sangat menentukan suasana interaksi yang dialami oleh siswa. Pola hubungan yang
diciptakan guru di kelas akan sangat menentukan suasana interaksi yang dialami
oleh siswa.
B.
SARAN
Sebagai calon guru hendaknya kita tahu dan memahami siapa sebenarnya anak
didik kita, agar nantinya dalam kegiatan belajar tidak terjadi salah arah. Hendaknya kita bisa menjadi panutan yang baik untuk
anak-anak didik kita karena segala tingkah laku kita akan mudah sekali ditiru
oleh peserta didik kita.
DAFTAR PUSTAKA
-
Yusuf,
Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar